Skip to main content

#3 Hari-Hari di Ruangan Isolasi Di minggu Pertama Sebagai Pasien Covid 19

Hai .... Apa kabar semua ? semoga kalian semua baik-baik saja ya insha allah dalam lindungan yang maha kuasa. Karena kita semua tahu kondisi negeri ini semakin hari semakin tidak kondusif dengan adanya berita covid 19 yang selalu meningkat korban yang berjatuhan oleh paparan virusnya. Aku berharap kita semua sadar bahwa tetap menjaga protokol kesehatan yang sudah diperintahkan oleh pemerintah dan para dokter-dokter indonesia, dengan cara Mencuci tangan, Pakai masker, membaa sinitizer dan selalu menjaga jarak dengan orang yang berada disekitar kita. Jangan lengah karena semuanya itu nyata dan ada didepan mata kita semua, begiu banyak korban yang telah pergi duluan meninggalkan kita termask para tim medis yang sebagai pahlawan kesehatan garda terdepan untuk menangani kasus ini.

Dok. Pribadi

Baiklah aku akan melanjutkan kisahku dari bagian kedua, hari ini aku kan menjelaskan bagaimana hari-hariku yang dijalani selama diruangan isolasi rumah sakit daerah. Setelah aku masuk ruangan isolasi ini aku sudah bertekad untuk mengikuti segala proses yang berjalan dirumah sakit ini, karena mereka lebih paham dan kompeten dalam bidangnya dan semua penanganan sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Aku berusaha untuk tenang dalam menjalani ini semua, ada rasa ketakutan dalam diriku karena sempat berfikir sampai berapa lama aku akan berada diruangan ini. Aku selalu berharap kepada Allah agar segera dipulihkan dan bisa berkumpul kembali dengan anggota keluarga, teman dan rekan kerja serta para pelanggan ku. Aku membangun rasa optimis dalam pikiran ku agar bisa tetap tenang dan fokus untuk sehat.

Hari pertama baik-baik saja hingga aku pada saat itu diberikan penanganan infus ditangan ku, setelah itu perawat masuk lagi untuk mengambil sample darah dari Jaringan Vena dan arteri. Aku merasakan sakit pada saat pengambilan darah di arteri karena itu jarum masuk lebih dalam sampai berasa ditulang, sangat sakit da aku menahan rasa sakitku dengan berdoa, semuanya akan baik-baik saja percaya kepada tim medis aja. itulah yang selalu aku bangun dalam pikiranku, karena jika melawan dan memberontak akan membuat tim medis kewalahan dalam menangani kita dan semuanya akan menjadi lambat.

Pengambilan darah pertama gagal di saluran arteri, aku sudah menahan rasa sakit yang luar biasa tapi kata perawatnya aliran arterinya tidak ketemu karena lumayan susah dapatnya. Itu butuh konsentrasi dan butuh fokus yang tingkat tinggi, tambah lagi mereka keterbatasan karena penglihatan dan tangan mereka semuanya ditutupi dengan perlengkapan APD yang berlapis-lapis. Bisa dibayangkan mereka para tim medis pakai baju APD yang merasakan pengap dan menahan rasa panas didalam pakaian itu. Aku sempat menanyakan itu APDnya berapa lapis dansarung tangannya juga berapa lapis, mereka menjawab untuk baju 3 lapis, masker sampai 4 lapis, sarung tangan 4 lapis hingga kebas nggak berasa lagi kata mereka, terus pakai kaca mata lengkap dan bisa dibayangkan bagaimana perasaan kita jika memakai APD.

Kondisi ku masih baik-baik saja dan normal seperti orang biasa, dihari kedua perawat tugas pagi masuk lagi keruangan isolasiku dengan pakaian lengkap APDnya. Hari ini pengambilan darah ulang dari arteri karena yang kemarin tidak berhasil, aku mulai berusaha tenang agar memudahkan tim medis bekerja untuk pengambilan darah ku. Dalam sekejap akhirnya perawat itu senang karena sudah berhasil ambil darah murni ku yang mengandung oksigen, ini menambah pengetahuan ku tentang ilmu kesehatan.

Dok. Pribadi
Setelah sesi pengambilan sample darah kemudian dilanjutkan dengan pengambilan uji test swab dari mulut danhidung, ini sangat sakit waktu awal aku mencobanya dikala swab pertama di puskesmas dumai. Aku berusaha mengikuti aba-aba dari tim perawat rumah sakit,ketika disuruh buka mulut aku membuka dengan lebar sambil menjulurkan lidah agar mereka mudah mengambil cairan didalam mulutku, aku tahan rasa mual dan muntah karena alat itu masuk sampai ke kerongkongan, setelah itu alat itu masuk ke dalam bagian hidung  dan terasa sama dengan waktu diawal uji swab.

Aku merasa cukup tenang karena semua proses sudah kulalui dengan baik tanpa ada hambatan, aku kembali beristirahat seperti biasanya. Namun berselang beberapa hari sebelum hasil swab keluar aku merasakan mual-mual dan muntah-muntah hebat karena pengaruh obat atau lainnya saya tidak tahu. Aku masih ingat itu pada hari sabtu dan minggu aku merasakan selama dua hari yang sangat melelahkan dan menguras tenaga ku, aku mengalami mual dan muntah hebat karena tidak tahan dengan bau santan dari makanan yang dibawakan oleh para perawat yang masuk mengantarkan ke kamar.

Dari pagi sampai malam aku merasakan mual yang bikin enek dan muntah berkepanjangan, setiap ada yang masuk ke mulut pasti bawaannya pengen muntah dan dikeluarkan. Aku mencoba bertahan dan padaakhirnya perawat masuk pada malam hari memberikan obat anti mual dengan dosis tinggi hingga membuatku tertidur lelap langsung diatas kasur. Aku terbangun pada pagi hari dengan kondisi yang sangat baik dan sudah mendingan dari sebelumnya, Aku melihat perawat masuk dengan membawa alat swab lagi dan ternyata hasil swab ku kemarin masih positif dan aku mencoba ikhlas dan beratahan untuk bisa menerimanya dengan lapang dada.

Sample swab mulai diambil kembali melalui mulut dan hidung, aku berharap hasinya negatif dan segera pulang dan berkumpul dengan orang terdekat. Namun hasilnya tetap saja positif dan perawat kembali mengambil swab lagi pada hari kamis dan pada saat itu kondisi fisikku sudah membaik dan mulai fit kembali. Aku sangat berharap ini menjadi swab terakhir bagiku untuk bisa cepat sembuh dari covid ini.

Bersambung..

Comments

Popular posts from this blog

#4 Support Dari Keluarga, Sahabat, Teman dan Rekan Kerja

Hello Semunya ... Apa kabar ? semoga dalam keadaan baik-baik saja dan tetap semangat dalam menjalani kegitan keseharan walau kondisi wabah pendemi COvid 19 ini ya. Hari ini aku akan melanjutkan kisah pengalamanku selama di ruangan isolasi lagi, jangan boan ya guys karena ini hanya sharing dan berbagi pengalaman karena selama didalam ruangan isolasi suntuk banget alias sendiri dan idak ada orang yang datang menjenguk atau melihat untuk jadi tamu. Melainkan para perawat, dokter dan tukang bersih-bersih ruangan yang ada di ruang isolasi ini. Untuk Hari ini aku akan sharing tentang orang-orang memberikan support dan semangat motivasi yang membangun agar aku bisa menjalani ini semua dengan bak, aku merasa sangat blessing dan bersyukur karena masih banyak orang-orang yang care dan peduli dengan kondisi ku saat ini. 1. Keluarga Mereka adalah orang pertama memberikan support dan motivasi semangat kepada ku dari pertama masuk ruang isolasi hingga  sekarang, pertama kali aku diberitahu posit...

#1 Kisah Awal Kena Wabah Covid 19

Hallo semuanya .. Apa kabar / semoga kalian semua dalam keadaan baik-baik saja ya insha allah amin ya rabby Sudah lama juga ni saya tidak menulis untuk kalian tentang kabar ku sekarang heheheehe sekarang aku mau berbagi kabar yang kurang baik ini karena sama-sama kita ketahui bahwa wabah Covid 19 di indonesia semakin marak dan semakin tinggi angka korban yang berjatuhan terdampak dan terpapar oleh wabah ini. Salah satunya daerah provinsi Riau tempatku berdomilisi sekarang, semakin hari semakin banyak yang sudah terpapar positif corona, karena kurangnya kesadaran untuk menjaga protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah kita. Sekarang saya berdomisili di daerah dumai, salah satu kota madya dari provini riau yang kaya akan hasil tambang minyaknya, namun saya ditugaskan dinas bekerja disana selama batas waktu tertentu yang disetujui oleh perusahaan. Singkat cerita ditempat daerah dinas ku bekerja merupakan salah satu daerah rawan zona merah untuk wabah covid 19. Perusahaan selalu m...

#2 Perjalanan Menuju RSUD Mandau Duri Pasien Covid 19

Hai semuanya ... Apa kabar ? semoga dalam keadaan baik-baik saja dan dalam lindungan Allah SWT amin ya rabby Hari ini aku akan melanjutkan ceritaku tentang perjalanan ku dari Dumai ke RSUD Mandau Duri untuk di isolasi mandiri karena wabah Covid Corona yang ada dalam tubuhku, sinar fajar sudah mulai terasa dengan hawa dingin di pagihari karena satu malam itu Dumai diguyur hujan lebat dan membuat suasana dipagihari sangat dingin. Aku mula berkemas dan mempersiapkan apa yang menjadi tanggung jawabku untuk segera keluar dari wisma ini sebelum orang rmai diluar sana, aku harus berusaha jam 06:00 sudah mulai jalan untuk menuju duri. Setelah sholat subuh dan mandir pagi, aku langsung bergegas mengambil semua barang-barangku untuk diturunkan dan diletakkan ke motor untuk siap-siap berangkat. Suasana masih gelap dan belum banyak aktifitas orang ramai yang berkeliaran di area wisma tersebut, aku berusaha tenang dan keluar untuk pamit dengan pihak wisma dengan memberikan kunci kamar dan izin untu...